Membangun Generasi Cerdas, Qur'ani,dan Berprestasi

Halaman

Jumat, 26 Oktober 2012

Tiga Pengemis yang Diperbolehkan

Setiap orang pasti membutuhkan rizki berupa makanan, minuman, pakaian, tempat tinggal, kendaraan dan kebutuhan-kebutuhan hidup lainnya. Untuk itu, manusia harus mencari nafkah dengan berbagai usaha yang halal. Bagi seorang muslim, mencari rizki secara halal adalah salah satu prinsip hidup yang sangat mendasar. Kita tentu menghendaki dalam upaya mencari rizki, banyak yang bisa kita peroleh, mudah mendapatkannya dan halal status hukumnya.
Namun seandainya sedikit yang kita dapat dan susah pula mendapatkannya, selama status hukumnya halal jauh lebih baik daripada mudah mendapatkannya, banyak perolehannya namun status hukumnya tidak halal. Yang lebih tragis lagi adalah bila seseorang mencari dengan susah payah, sedikit mendapatkannya, staus hukumnya juga tidak halal, bahkan resikonya sangat berat, inilah sekarang yang banyak terjadi. Kita dapati di masyarakat kita ada orang yang mencuri sandal atau sepatu di mesjid, mencopet di bus kota dan sebagainya. Korban penganiayaan dari masyarakat sudah banyak yang berjatuhan akibat pencurian semacam itu.
Dalam satu hadist, Rasulullah saw menyebutkan tentang kecintaan Allah swt kepada orang yang mencari rizki secara halal meskipun ia berusaha payah dalam mendapatkannya, beliau bersabda: Sesungguhnya Allah cinta (senang) melihat hambaNya lelah dalam mencari yang halal (HR. Ad Dailami).
Salah satu cara mencari harta yang tidak terhormat adalah dengan meminta-minta atau mengemis kepada orang lain. Karena itu, sebagai muslim jangan sampai meminta atau mengemis agar kita mendapat jaminan surga dari Rasulullah saw sebagaimana sabdanya : Barangsiapa yang menjadi kepadaku bahwa ia tidak meminta sesuatu kepada orang, aku menjamin untuknya dengan surga (HR. Abu Daud dan Hakim
Kaum Muslimin yang berbahagia
Pada dasarnya, mengemis termasuk cara mencari harta yang diharamkan oleh Allah swt, kerena itu, mengemis tidak boleh dilakukan oleh seorang muslim kecuali bila sangat terpaksa, Rasullullah saw bersabda : Qabishah bin Mukhariq al Hilal ra berkata: “aku pernah memikul tanggunguan berat (diluar kemampuan), lalu aku datang kepada Rasulullah saw untuk mengadukan hal itu. Kemudian beliau bersabda: “tunggulah sampai ada sedekah yang datang kepada kami lalu kami perintahkan agar sedekah itu diberikan kepadamu”. Setelah itu beliau bersabda: Hai qabishah, sesungguhnya meminta-minta itu tidak boleh kecuali bagi salah satu dari tiga golongan, yaitu (1) orang yang memikul beban tanggungan yang berat (diluar kemampuannya), maka dia boleh meminta-minta sehingga setelah cukup lalu berhenti, tidak meminta-minta lagi. (2)Orang yang tertimpa musibah yang menghabiskan hartanya, maka dia boleh meminta sampai dia mendapatkan sekedar kebutuhan hidupnya. (3) Orang yang tertimpa kemiskinan sehingga tiga orang yang sehat pikirannya dari kaumnya menganggapnya benar-benar miskin, maka dia boleh meminta sampai dia mendapatkan sekedar kebutuhan hidupnya. Sedangkan selain dari tiga golongan tersebut hai Qabishah, maka meminta-minta itu haram yang hasilnya bila dimakan juga haram (HR. Muslim).
Dari hadist di atas, dapat kita pahami bahwa mengemis yang dibolehkan adalah mengemis yang sekedar untuk memenuhi kebutuhan pokok dalam kehidupan seseorang, itupun tidsk boleh menjadi pekerjaaan atau profesi, karena situasi darurat seharusnya tidak berlangsung lama. Lebih jelas ada tiga sebab atau keadaan yang dibolehkannya mengemis bagi seseorang.
Pertama, orang yang memiliki beban hidup yang tidak mampu ditanggungnya sehingga dengan kesungguhan dan kerja keras tanpa ia dapat berusaha dengan cara lain yang halal untuk bisa memenuhi kebutuhannya. Dalam kehidupan sekarang, para pengemis bisa jadi berada dalam keadaan memiliki tanggungan yang berat, namun karena dari mengemis ternyata banyak yang diperolehnya meskipun tanpa kerja keras, maka ia malah keasyikan sehingga tidak mau berusaha yang lain.
Padahal seandainya seorang ibu yang kita lihat di jalan-jalan untuk mengemis mau jadi pembantu rumah tangga aja; makan, minum dan tempat tinggal sudah terjamin, itupun masih mendapat upah setiap bulan. Kalau para preman yang suka memalak mau berusaha dengan cara berdagang minuman ringan dan makanan kecil saja, maka ia sudah bisa memperoleh uang, kalau orang cacat diberikan pendidikan ketrampilan yang membuatnya bisa berusaha dan berkarya, tentu ia tidak akan menunggu belas kasihan orang lain.
Oleh karena itu, setiap orang seharusnya bisa memahami dan menyadari bahwa semakin lama beban hidup memang semakin besar sehingga seseorang dituntut untuk meningkatkan semangat bekerja dan berusaha, termasuk di dalamnya dengan memperbanyak ketrampilan karena semakin banyak ketrampilan yang dikuasainya, semakin banyak pula pintu rizki yang bisa dibuka.
Kedua yang dibolehkan mengemis adalah orang yang tertimpa musibah seperti bencana alam yang menghabiskan hartanya, bahkan untuk sementara iapun tidak bisa berusaha sebagaimana biasanya. Di Negara kita, bencana datang silih berganti bahkan ada bencana yang sudah diperkirakan seperti banjir, tanah longsor, berbagai penyakit yang muncul akibat perubahan musim dan sebagainya. Kalau pemerintah tanggap dalam masalah ini, apalagi dibantu lembaga swadaya masyarakat. Mestinya orang tertimpa musibah tidak akan sampai mengemis, anggaran Negara dan pemerintah daerah harus disediakan dalam jumlah yang banyak untuk menghadapi situasi darurat akibat bencana alam.
Karena itu, masyarakat yang tertimpa musibah memang harus menunjukkan kesabaran yang besar karena hal itu memang ujian dari Allah swt sebagaimana firman-Nya: Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (QS. Al Baqarah [2]:115)
Ketiga, kemiskinan yang diakui oleh masyarakat disekitarnya bahwa dia memang miskin sehingga untuk memenuhi kebutuhan pokok saja seperti makan dan minum ia tidak sanggup lagi memenuhinya. Bila tidak ada pilihan lain, maka orang yang ditimpa kemiskinan dibolehkan mengemis sekedar untuk bisa memenuhi kebutuhan pokoknya.
Namun kemiskinan idealnya tidak sampai membuat seseorang menjadi pengemis, tapi orang berkemampuan apalagi pemerintah harus segera membantu masyarakat yang miskin dengan mendidik masyarakat dan membuka lapangan kerja yang luas. Ketika ada orang yang mengalami kesulitan, seharusnya orang itu tidak sampai mengemis, tapi tetangga wajib mengatasi kesulitannya itu.
Karenanya seseorang dianggap tidak beriman bila ia tahu tetangganya lapar tapi ia tidak menolongnya, Rasullullah saw bersabda: Tidak beriman kepadaku orang yang dapat tidur dengan perut kenyang, sementara tetangganya kelaparan, padahal dia mengetahui (HR. Bazzar).
Disamping itu, ketika seseorang mau berusaha lalu membutuhkan modal, maka permodalan bisa diberikan atau dipinjamkan dari dana zakat, infak dan sedekah atau memang dana yang disediakan oleh pemerintah sehingga seseorang bisa berusaha dengan cara yang baik dan tidak lagi menjadi pengemis.
Dengan demikian dalam situasi terpakasa, seseorang dibolehkan mengemis hanya untuk mendapatkan rizki sekedar bisa memenuhi kebutuhan pokok, bukan dengan pengemis itu ia menjadi kaya apalagi sampai menipu orang lain agar ada belas kasihan kepadanya. Orang yang selama ini menjadi pengemis harus meninggalkan cara mengemis dan secara serius pemerintah dan lembaga-lembaga zakat serta pengurus masjid harus memberi perhatian dalam masalah ini.
Oleh Karena itu, motivasi dan memberi pemahaman yang utuh untuk membantu yang lemah harus dibangun kembali, sedangkan mereka yang mengalami kesulitan hidup harus mau berusaha semaksimal mungkin dan tidak menjadikan keadaan dirinya sebagai alasan keterpaksaan untuk mendapatkan rizki dengan cara yang tidak terhormat.

eramuslim.com

GUBERNUR JADI PESURUH

Salman Al Farisi adalah seorang gubernur yang sederhana
selama bertugas sebagai Amir atau kepala daerah di Madain,
ia tak mau di gaji satu dirham sekalipun.
Ia tetap mengambil nafkahnya dari hasil menganyam daun kurma,
sedang pakaiannya tidak lebih dari sehelai baju usang.

Pada suatu hari, ketika sedang berjalan di suatu jalan raya,
salman didatangi seorang saudagar dari Syria yang membawa sepikul buah tin dan kurma.
Rupanya beban itu amat berat, hingga melelahkannya.
lalu saudagar itu melihat Salman yang berpenampilan seperti pesuruh,
lalu saudagar itu memberi isyarat supaya salman datang kepadanya,

 "Tolong bawakan barangku ini,
nanti kuberi upah bila telah sampai tempat tujuan" kata orang dari Syria itu kepada salman.

tanpa bicara, barang itu dipikullah oleh Salman radhiyallahu 'anhu,
lalu berdua mereka berjalan bersama-sama.

Di tengah perjalanan mereka berpapasan dengan satu rombongan.
Salman radhiyallahu 'anhu memberi salam kepada mereka,
yang dijawabnya sambil berhenti: "Juga kepada amir, kami ucapkan salam"

"Juga kepada amir?"
Amir mana yang mereka maksudkan?"
tanya orang Syria itu dalam hati.

Keheranannya kian bertambah
ketika dilihatnya sebagian dari anggota rombongan segera menuju beban
yang dipikul oleh Salman radhiyallahu 'anhu dengan maksud hendak menggantikannya,
kata mereka: "Berikanlah kepada kami wahai amir!"

Sekarang mengertilah orang Syria itu
bahwa kulinya tiada lain Salman al-Farisi radhiyallahu 'anhu,
gubernur dari kota Madain.

Orang itu pun menjadi gugup,
kata-kata penyesalan dan permintaan maaf bagai mengalir dari bibirnya.
Ia mendekat hendak menarik beban itu dari tangannya,
tetapi Salman radhiyallahu 'anhu menolak, dan berkata sambil menggelengkan kepala:

"Tidak, sebelum kuantarkan sampai ke rumahmu!
jawab salman sambil memikul barang itu sampai ke tempat tujuan

Sumber : ka-isti dongeng islami ceria

PENGHUNI HUTAMAH

"APA LO..!" bentak galak Imran kepada Ipul...
"woo..SOMAD" kata Ipul memanggil nama ayahnya Imran..
tak mau kalah Imranpun berkata hal yg lebih menyakitkan lagi..

anak-anak itu akhirnya saling memperolok temannya..
mereka menyebut nama bapak, nama binatang
dan nama-nama yg menyakitkan telinga, kepala dan hati..

astaghfirulloohal'adziim... (T_T)

dengan menangis malaikat atid mencatat di buku amal perbuatan anak-anak itu..
setan-setan bertepuk tangan dan tertawa dengan bersandar,
karena puas telah berhasil mengajak satu anak lagi ke neraka

malaikat rakib masih berharap ada salah satu anak yg mengalah,
dan meminta maaf, serta beristighfar...
tp kelihatannya pertengkaran semakin memanas..

hingga akhirnya..

"oke..oke..coba teman-teman tenang dulu.."
Nayla yg baru datang menenangkan kedua temannya yg sedang panas...

"masalahnya apa?" kata nayla mencoba mengurai masalah..
lalu Imran dan Ipul saling mengadu dan berteriak...
dan nayla pun mengambil tindakan tegas..

"STOP..astaghfirulloooh... dua-duanya SALAH..
ayo kalian berdua beristighfar!

tak tahukah kalian, kalau Allah sendiri sudah berkata di surat al humazah :
CELAKALAH...bagi setiap pengumpat dan pencela!..
dia pasti akan dilempar ke neraka HUTAMAH...
taukah kalian apa itu neraka Hutamah?
itu neraka yg membakar sampai ke hati kalian, sedang kalian di ikat pd tiang yg panjang,
dan neraka itu di tutupkan di atas kepala kalian"..kata Nayla dengan wajah khawatir

temannya yg dua terdiam.. lalu Nayla berkata..
"jangan biarkan Syetan tertawa, ayo bersalaman,
biar Allah menggugurkan dosa-dosa kalian krn berantem td..."

walau masih gengsi, akhirnya Imran dan Ipul bersalaman dan beristighfar

terimakasih nayla,
sungguh mempunyai teman sholehah sepertimu
bagai mutiara mahal yg barharga :)
Sumber : ka-isti dongeng islami ceria

DRAMA KESEDIHAN ORANG BESAR

part 1 # Mencari Kebenaran TapiTerbuang Dari Orang-orang Terdekat

Pengalaman kehidupan penulis besar Maryam Jamila, adalah keterasingan pencarian kebenaran itu sendiri. Di dalamnya ada kesendirian yang pedih. Pengucilan menyesakkan dari lingkungan. "Keterpisahan rasa" dengan keluarga yang amat menghimpit.

Maryam dilahirkannn di New York, pada 3 Mei 1934. Ayahnya Herbert S. Marcus, seorang pengusaha memberinya nama Margaret dengan panggilan Peggy. Ketika kanak-kanak Maryam gadis yang peka, dianggap keras kepala dan agak sulit bergaul. Tetapi kecerdasannya sangat menonjol. Pada masa sekolah ia terpandai dikelasnnnya. Bacaannya jauh melampaui kurikulum sekolah. Perpustakaan sekolah dan perpustakaan umum dijadikan rumah kedua baginya. Pada usia 12tahun ia sudah amat membaca buku., termasuk ensiklopedia. Ia gemar membaca buku tentang bangsa ARAB dan bangsa orang Islam.

Selama 8 tahun masa sekolah dia tak punya teman karena waktunya habis untuk membaca buku. Saat terakhir duduk di SMA karya tulisnya, "The Ethnical Culture Movement" (Gerakan Budaya Etis), membbuat terkesann pimpinan budaya etis di New York dan kemudian menerbitkannya.

Cerita tentanng bangsa Arab mengilhaminya menulis fiktif tentang seorang anak Arab didesa kecil di Palestina. Abak itu diberi nama "Ahmad Khaliil", yang kemudian menjadii judul karangan yang ditulis ketika baru berusia 14 tahun. Ketertarikan pada bangsa Arab dan islam tidak disetujui orang tuanya. Tetapi Maryam malah menyerahkan buku "Children of the Housetops" karangan Youel Basyir Mirza tentang keluarga muslim bahagia dan penuh kasih sayang di Timur Tengah.

Gadis Yahudi ini memang lain dari masa belia. Ia sering pindah dari pusak kerohanian ke pusat kerohanian yang lain, dari yang sepenuhnya bersifat keagamaan, hingga yang bersifat agnostik, atau malah ateistik sama sekali. Rontoknya pilar kepercayaan yang telah dibangun pada dirinya dan tak ada alternatif pengganti ditambah keterasingan akhirnya menjadikan ia psikoanalisis selama 3,5tahun. disusul 2tahun perawatan si Ruham Sakit Jiwa semua ini membuatnya meninggalkan kuliah tanpa izasah.

setelah sembuh ia melanjutkan lagi kesenangannya membaca dan menulis. Maryam masuk islam secara terbuka pada Idul Adha 24 Mei 1961 di Islamic Mission di Brookly New York. Syeh Daud Ahmad Faisal, ketua lembaga the Islamic Mission of America menuntunnya mengucap syahadat. Ia bertutur pada ulama besar Sayyid Abul A'la al Maududi, "Lima hari lalu, di hari Idul Adha sesudah salad Ied dan disaksikan dua teman muslim saya, secara terangan saya mengucapkan syahadat yang menjadikan saya orang islam sepenuhnya. Nama islam saya Maryam Jamila dengan nama itu selanjutnya akan saya pergunakan untuk menandatangani seluruh surat dan tulisan saya. Tetapi karena orang tua dan keluarga saya tidak mau memanggil saya dengan nama arab saya tidak memaksanya. Tetapi dengan anda dan teman seiman saya hanya ingin menggunakan nama saya yang membanggakan ini."

Maryam belum bebas dari keterasingan masyarakat New York yang keristan dan yahudi seolah membuangnya, harapannya untuk mendapatkan pelipur dari saudara seiman di Amerika pun hampa belaka.  Berbagai benturan dihadapi ironisnya dari rekan seagamanya.

"Pada umur 19tahun segera setelah saya mempelajari literatur islam yang diterjemahkan dalam bahasa inggris saya melakukan surat menyurat dengan belasan kaum muda dunia Arab dan Pakistan. Tujuan saya agar mendapat pengetahuann lebih mendalam dari tangan pertama tentang arti islam menurut orang islam sendiri, dan mendapat berita tentang islam lebih rinci daripada dimuat diberita.  Sebagai hubugan sahabat pena tidak berlangsung lama karena segera saja saya kecawa dengan gaya hidup meraka yang terbaratkan, karena ketakacuhan mereka kadang permusuhann tersembunyi pada agamanya sendiri."

Seperti diakuinya,"Akhirnya serelah 3,5 tahun psikoanalisis yang malah dan tidak membuahka hasil dan dua tahun di rumah sakit, saya baru saja mentas dari masa remaja yang panjang tidak bahagia penuh kesendirian lagi frustasi. Hanya karena Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang sajalah saya meraih kehidupan yang lebih bermanfaat."

Betapa keterasingan pernah menderanya diungkapkannya pada tahun 1962 tak lama setelah keislamanya. Saat itu ia mendengar pendapat bahwa orang yang pindah agama terkena kasus mental, Maryam lantas mengatakan "Reaksi pertama saya adalah ini pernyataan paling menyakitkan yang saya dengar.... penerimaan saya akan islam tindakan saya paling positif, konstruktif, dan bijaksana. Juga saya sadari sepenuhnya islam obat paling mujarap dalam kesehatan mental. Karena keterasingan, keterpurukan, kekacauan emosional membuat saya bekerja keras menemukan landasan hidup ini. Maka bisa dilihat Allah menginginkan apa yang terbaik untuk hambaNya, dan apa yang tampak sebagai bencana itu ternyata bisa menjadi rahmat."

TARBAWI edisi 107 th. 7