Oleh : Al-Ustadz Al-Hafidz Abdul aziz Abdur Rauf, Lc.
وَقَالَ الرَّسُولُ يَا رَبِّ إِنَّ قَوْمِي اتَّخَذُوا هَذَا الْقُرْآنَ مَهْجُورًا
Sesungguhnya ibadah tilawah satu juz ini sudah tertuntut kepada manusia sejak dia menjadi seorang muslim. Lalu bagaimana dengan kita, ashhabul (aktifis) harokah wad da’wah? Sudahkah keislaman kita membentuk kesadaran komintem dengan ibadah ini? Ketika kita kelalaikannya, dapat diyakini bahwa kendalanya adalah dha’ful himmah (lemah dan kurangnya kemauan), bukan kaena tidak mampu melafalkan ayat qur’an seperti anggapan kita selama ini. Yang harus dibentuk dalam hal ini bukan hanya sebatas mampu membaca,
namun lebih dari itu, bagaimana membentuk kemauan ini menjadi sebuah moralitas ta’abbud (penghambaan) kepada Allah.
Dari sini kita menjadi faham bahwa tarbiyah adalah proses perjalanan yang beribu-ribu mil jauhnya. Jadi yakinlah, selama kita komitmen dengan proses tarbiyah dengan seizin Allah kita akan sampai kepada kemampuan ibadah ini. Dan jangan sekali-kali kita berlindung dari ketidakmampuan ini dengan berlindung di bawah was-was syaithan dengan bahasa sibuk, tidak sempat, acara terlalu padat, dan lain sebagainya.
Hasan Al-Bana berkata : “Hendaklah anda memiliki wirid harian membaca al-qur’an minimal satu juz setiap hari, dan berusahalah sungguh-sungguh agar jangan sampai mengkhatamkan al-qur’an melewati satu bulan.”
Sebuah proses tarbiyah yang semakin matang, dengan indikasi jiwa dan hati yang semakin bersih, secara otomatis akan menjadikan kebutuhan terhadap al-qur’an mengalami proses peningkatan. Sejarah mencatat bahwa sahabat dan salafussalih ketika mendengar Rasul bersabda,”bacalah al-qur’an dalam satu bulan”, maka begitu banyak yang menyikapinya sebagai sesuatu yang minimal.
Sebutlah Ustman bin Affan, Abdullah bin Amr bin Ash, Abuu Hanifah, dann Imam Asy-Syafi’I ra. Mereka adalah contoh orang-orang yang terbiasa menyelesaikan bacaan al-qur’an dalam waktu tiga hari sampai satu pekan.
Kalau saja tarbiyah qur’aniyah kita sudah matang, kita akan dapat merasakan bahwa sentuhan tarbawi (pendidikan) surat al-baqarah berbeda dengan surat al-imron, an-nisa dengan surat yang lainnya. Sehingga ketika seseorang sedang membaca an-nisa, pasti ia akan merindukan al-maidah. Inilahh suasana tarbiyah yang belum kita miliki yang harus dengan serius kita bangun dalam diri kita. Jangan sampai hidup ini berakhir dengan kondisi kita melalaukan ibadah tilawah satu juz padahal kita mampu kalau saja kita mau menambah sedikit saja mujahadah (kesungguhan) dalam tarbiyah ini.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar